Acara Malam Tahun Baru 2013 ala Maman Mimin

Excited!!

Yahh… walaupun cuma telpon beberapa menit dan selanjutnya harus puas dengan chat dikarenakan sinyal yang labil,  alhamdulillah Tahun Baru pertama kami berjalan menyenangkan.

Hari sebelumnya kita janjian ketemuan jam 10wib dengan dress code batik. Saling memfoto batik masing-masing dan di pilih warna mana yang cocok dan akhirnya kami menentukan memakai batik warna hijau. Batik yang bakal dipake Mimin adalah batik seragam tempat dia mengajar, sedangkan batik Maman adalah batik lusuh yang dah bolong di keteknya.

Kita berniat nggak mau bikin rame-rame ato hura-hura, minum-minum sampe mabok, nyalain kembang api mewah kaya di ostrali. Hanya akan dipandang sebagai orang gila di tempat masing-masing (Bayangin ada orang sendirian ngomong depan leptop teriak-teriak), dan juga sebagai penghormatan untuk temen-temen Pakistan karena New Year Eve bukan public holiday disini. Kita berencana mengisi malam tahun baru dengan instropeksi, eh itrospeksi, eh intropeksi, ah apapun lah itu tentang hubungan kita di tahun lalu dan rencana-rencana kedepan kita.

Pas dah jam 10wib kurang, Maman dah sampe di rumah Mimin buat jemput. Rupanya Mimin belum siap dandan. Kayanya Mimin pengen maksimal buat nyenengin Maman jadi Maman menunggu dengan sabar. Ketika Mimin keluar dari peraduaanny, hati Maman berdesir, mata tak sanggup memandang, denyut jantung mengencang, mulut pun berkata takjub “Malem tahun baru ada kelas ya Min?”. Dalam sekejap Maman semuanya berubah menjadi gelap. (internet disconnected)

Harus puas dengan chatting, akhirnya kita saling membuat pengakuan. Diawali dari Mimin tentang kesan-kesan selama bersama Maman, progress dalam hidupnya setelah bareng Maman, dan berbagai persiapan jika Maman yang brengsek ini meninggalkan Mimin. Begitu juga Maman yang menyampaikan hasil-hasil usaha, program kerja, dan evaluasi (ni ngedate ato laporan tutup buku tahunan?). Dari sini lah Maman dan Mimin saling mengetahui kekurangan masing-masing. Seandainya nggak ada kegiatan beginian Maman nggak bakal tau bahwa Mimin punya kejelekan yang sama kaya Mimin. Sesuai ayat Quran surat An-Nur 26

وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

 dan wanita2 yang baik untuk pria2 yang baik, dan pria2 yang baik untuk wanita2 yang baik

Jam 12wib, Mimin pamit mau liat kembang api bentar. Ya udah Maman nungguin. Kenapa Maman nungguin, soalnya di Islamabad belum tahun baru. Simple.

Setelah itu acara berlanjut ke pembicaraan rencana-rencana ke depan. Rencana memajukan blog ini, yang akhirnya kita kasih nama Golberto, dan rencana menovelkan blog ini yang kita kasih nama proyek Novelita. Golberto n Novelita. Ngasal aja, tau2 pas ngomongin nama, Maman kepikiran tentang telenovela. Juga ada nyerempet membicarakan meningkatkan level hubungan kita ke tahapan yang lebih tinggi. Nyerempet doang, nggak sampe nabrak.

Lalu akhirnya giliran Maman yang tahun baru. Maman juga melakukan hal yang sama dengan Mimin. Naik ke rooftop. Bertahan melawan dingin berharap melihat cahaya kembang api di langit Islamabad sambil memimpikan sedikit keramaian. Namun semuanya nihil. Hanya terdengar suara klakson yang dipaksakan dari kejauhan. Pakistani memang tidak merayakan Tahun Baru Masehi, begitu kata temen Pakistan.

Akhirnya Maman kembali ke selimut. Mencoba sedikit peruntungan dengan Skype, dan akhirnya bisa walaupun hanya sebatas telpon. Mimin sudah membongkar jilbabnya. Akhirnya cuma Maman yang nongolin wajah. Ngobrol sebentar, dan putus lagi. Akhirnya balik ke chatting via whatsapp. Pembicaraan mulai garing karena nggak tau mau bahas apa.

Mimin akhirnya mulai bosan, dia mengutak atik FBny. Maman yang tak mau menyia2kan menit2 terakhir bersama Mimin (karena mulai keesokan harinya Maman n Mimin akan no communication, untuk merefresh tingkat kecintaan yang bakal tumbuh kalo lama nggak ketemu) mengajak doa bersama. Diawali dengan memohon ampun yang ternyata memiliki keajaiban, dilanjutkan doa keselamatan, doa awet, dan doa tentang cita-cita kita. Beruntung waktu di kedua belah pihak masih masuk waktu sholat tahajud, akhirnya kita tahajud bersama.

Sebelum berpisah, kita mengheningkan diri sejenak, membayangkan kita akan berpisah lama. Saling memberi pesan dan nasehat hati-hati. Saat seperti inilah yang paling romantis. Saling menyenangkan satu sama lain, melakukan tugas masing-masing untuk saling membahagiakan.

Mimin, terima kasih atas pengorbanan yang telah kau berikan. Maaf kalo aku belum bisa membalas dengan setara. I love you.