Lapang Dada

Alkisah ada sebuah keluarga miskin yang terdiri atas suami, istri, dan 4 orang anak. Mereka tinggal di sebuah gubuk dengan 2 kamar saja. Berbagai masalah yang ada membuat sang suami merasa sempit tinggal di gubuk tersebut. Banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya. Akhirnya pergilah ia ke sebuah orang bijak untuk meminta nasehat.

“Saya sumpek dengan keadaan di rumah. Berikanlah sebuah nasehat agar terbebas dari rasa ini!” ujar sang suami kepada orang bijak tersebut. Orang bijak tersebut memerintahkanny untuk memelihara 10 ekor ayam di dalam rumah. Tanpa mengerti apa maksudnya, sang suami menurut saja apa yang di perintahkan. Dibelilah 10 ekor ayam di pasar dan ia pelihara di dalam rumah.

Selang 1 bulan, sang suami merasa keadaan rumahnya semakin sumpek. Situasi keluarga yang belum juga berubah di tambah dengan 10 ekor ayam membuat rumahnya terasa semakin sempit. Kembalilah ia ke orang bijak tersebut untuk meminta nasehat lagi. Namun ternyata orang bijak itu menyuruhnya untuk memelihara 2 ekor kambing. Walaupun tetap bingung dengan perintah orang bijak tersebut, sang suami tetap menjalankannya.

Bukannya ada peningkatan suasana, gubuk tersebut tambah semakin sempit. Bisa dibayangkan hanya sebuah gubuk kecil diisi oleh 6 orang ditambah 10 ekor ayam dan 2 ekor kambing. Namun sang suami tak menyerah. Walaupun hatinya terasa semakin sempit ia tetap mendatangi orang bijak untuk minta nasehat kembali 1 bulan kemudian. “Peliharalah 1 ekor sapi!” ujar orang bijak tersebut. Alangkah terkejutnya sang suami tersebut. Dia pulang sambil membawa sapi yang ia beli di pasar sambil membayangkan betapa sumpeknya gubuk kecilnya nanti.

“Saya sudah tidak tahan” ujar sang suami kepada orang bijak tersebut. Setelah 1 bulan ia menahan diri tinggal dengan hewan2 tersebut, ia akhirnya menyerah. “Sekarang juallah10 ayammu.” kata orang bijak dengan sabar menghadapi sang suami. Walaupun belum lega sepenuhnya, sang suami merasa ada kelapangan di gubuk kecilnya. Sedikit demi sedikit ia menemukan kebahagiaan di rumah sederhananya. Sampai akhirnya kambing dan sapinya di jual atas perintah orang bijak, bahagialah sang suami. Akhirnya ia menemukan kelapangan yang selama ini ia cari di rumahnya yang kecil sehingga masalah di keluarganya bisa ia tuntaskan dengan mudah.

Seperti itulah berkah Ramadhan. Kita di coba untuk belajar bersabar selama sebulan penuh untuk menemukan kelapangan di hati kita. Tidaklah mungkin kita bisa menyelesaikan masalah dengan tuntas apabila hati kita selalu merasa sempit. Perumpamaannya, kita anggap segenggam garam itu sebagai masalah hidup dan air adalah hati kita. Apabila hati kita hanya sebesar segelas air, betapa asinnya air tersebut. Namun apabila hati kita selapang kolam air, maka asinnya garam tidak akan kita rasakan.

Dikutip dari Kultum Tarawih KBRI Islamabad oleh Syamsul Hadi (mahasiswa pasca Sarjana jurusan Comparison Religion IIUI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s