Pujaan Hati Menerima Lamaran Maman

Alhamdulillah…

Jalan panjang yang Maman tuju kemaren untuk melamar sang pujaan hati akhirnya berakhir bahagia. Namun ternyata jalan itu tak mudah. Atokah ini sekedar ujian dari yang maha Kuasa untuk membuktikan bahwa Maman memang pantas. Entahlah…

Pertama waktu mau minjem motor. Orang yang punya motor lagi masuk kelas. Akhirnya Maman nunggu ampe dia keluar kelas. Pas udah jalan, eh taunya salah belok, jadinya muter agak jauh. Maman anggap ini masih ringan lah. Lanjut jalan. Eh taunya pas di perempatan lampu merah, motor terasa aneh. Emang motor rasanya aneh kalo dijilat, tapi bukan rasa yang itu. Bukan pula rasa aneh seperti Maman suka ma Mimin pas pertama ketemu. Bukan. Tapi rasa aneh motorny ga stabil gitu. Maman pikir ini karena temen belakang yang emang dia agak gendut jadinya mengganggu kestabilan motor. Sampai akhirnya saat lampu hijau diselingi kendaraan lain yang mau jalan “Stop woi, bannya kempes kayanya” kata temen Maman. Temen Maman langsung turun dari motor. Dalam keadaan agak kaget, Maman yang (sok) profesional menjalankan motor hingga menyebrangi jalan dengan tampan. Sangat kebetulan sekali di dekat Maman saat itu ada tukang tambal ban yang rame. Kemungkinan dia nabur ranjau paku? Bodo ah, yang jelas sejam kemudian Maman bisa lanjut jalan dengan sedikit misuh2.

Mendekati lokasi, ternyata ada perbaikan jalan. Jalan menyempit jadinya macet. Hujan tak kunjung datang, debu berterbangan, membuat upil menjadi tebal. Sampailah di lokasi. Muter-muter, ternyata doi ga di lokasi. Hari menjelang malam, harus segera dapat soalnya makin malem makin dingin. Maman ga ada persiapan baju dingin coz planning sebelum maghrib dah kelar. Ambil keputusan cepat, kembali ke tempat kemaren.

Dari selatan Islamabad menuju bagian utara. Melewati High Road, jalan lurus macem tol tempatnya kendaraan mengambil kecepatan penuh. Malam semakin dingin, namun semangat Maman yang membara menghangatkan badan (ga juga, tetep kedinginan. Serius…). Sampai di lokasi maghrib hampir habis, langsung menuju masjid sekalian berdoa semoga dipermudah.

Nampaklah dia sang pujaan hati. Jalan pelan dengan harap-harap cemas. Masuk ke rumahny, dia sudah menanti. Basa basi bentar dengan sang wali. Sampai akhirnya kuutarakan maksud kedatangan kami. Tawar-menawar namun tak kunjung sampai kesepakatan. Pura-pura pamit siapa tau sang wali hatinya meluluh. Tapi ternyata nggak. Hati semakin merana, si dia nampak menderita, akad tak kunjung tiba. Memang sih Maman sudah siap dengan maharnya, lebih malah. Tapi pengennya dapet yang lebih ringan. Akhirny, dengan yakin Maman mengucap Bismillah…

“…Saya terima Samsung Galaxy Note 10.1 dengan mas kawin 60ribu rupee dah sama screen guardny tunai”

hasil 5bulanan ngamen, nyisain uang saku, nahan laper, utang sana sini… Akhirnya sekarang Maman dah halal bwt grepe-grepe si doi… Muahahhahaha…

One thought on “Pujaan Hati Menerima Lamaran Maman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s