Spekulasi Budaya Politik Indonesia

Latah nih Mimin, ngeliat Maman nge-post masalah politik jd pengen juga komentar masalah politik. Dicoba dari politik yang ada di Indonesia dech.

Pemilu 2014 bentar lagi jehhh, bagi para kader-kader pasti lagi sibuk-sibuknya nih (sotoy). Kalau bagi mahasiswi kayak Mimin lagi memepersiapkan analisis-analisis seputar pemilu dan bahkan saat pemilu. Yaaa… semacam belajar lah. how about you?

Menurut Mimin (yang ngga tau mau ngejelasin pake teori apa), untuk saat ini peran media sebagai to inform adalah hal terpenting. Kalut atau tidaknya suatu pesta rakyat nanti sangat dipengaruhi besar oleh si media. Kenapa? ya karena pendidikan politik di masyarakat kurang. Tau budaya politik kan? yang pertisipan,  subjektif (kalo nda salah sih, mohon dibenerin ya kalo salah), trus yang parokial…

Kalau rakyat nya iya-iya ajja ama pemerintahan disebut budaya parokial. Kalau yang rakyat tau itu politik, ngerti pula, tapi dia diem ajja gag mau komentar atau berbuat sesuatu itu disebut budaya subjektif. Nah, kalau masyarakatnya aktif bukan sembarang aktif, berbuat bukan sembarang berbuat ini disebut dengan budaya partisipan. lalu, kemudian dan seterusnya Mimin belum tau gimana cara ngukurnya untuk nentuin dimana budaya politik Indonesia.

Mau menilai menurut jumlah penduduk, Mimin gag punya data. Mau ngeliat dari pendidikan di Indonesia, Mimin gag tau berapa persentase orang yang ngambil jurusan politik, karena bisa jadi orang yang gag belajar politik tapi dia tau politik dan bahkan ikut berpolitik. Jadi cuma sedikit spekulasi dari Mimin data ini keluar. Harap dimaklumi yaaa…

Kalau di Indonesia dikatakan parokial sepertinya kurang pas. Karena informasi, pendidikan dan keikutsertaan rakyat dalam politik tidak bisa dipandang sebelah mata. Rakyat Indonesia saat ini sudah mulai ikut berbicara politik meskipun mungkin minim pengetahuan didalamnya. 

Kalau dikatakan partisipan juga terlalu lebay. Karena gag semua juga orang Indonesia paham politik. Misalnya dibilang partisipatif, seharusnya kalimat seperti ini tidak terlontar → “saya milih ya yang ngasih jatah lebih. Kaos lebih, payung lebih dan pesangon yang lebih”. Miris kannn??? Kalimat seperti ini Mimin dapatkan ketika kelas Mimin melakukan surfei ke kalangan-kalangan yang sekiranya gag tau politik atau yang sekedar tau pemilu saja. So, budaya ini sepertinya juga tidak terlalu pas.

Bagaimana dengan budaya politik subjektif? Apakah cocok dengan Indonesia? Menurut Mimin sih sepertinya begitu, tapiiii… No Comment lagi dech.

Inget ini hanya spekulasi saja. Hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s