Sedikit Cinta dari Zainuddin ( Review Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)

Udah pada nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck?
Mimin awalnya mau nonton premier, tapi waktu itu ada kegiatan gitu. (penting gg sih?!) hahaha…

Banyak yg bilang gag begitu bagus film ini. Tapi, karena lagi bosen dan kebetulan ada rejeki lebih jadi Mimin nonton ajja , dan kebetulan masih ada film ini. Well, Mimin mau ikut mereview dikit yaaaa…

Scene pertama yg keluar udah Junot, spontan cewek2 di bioskop pada berbisik “omegod Junottt..”, tak ketinggalan Mimin juga mendesah seperti yg lain. Hehehe… Ini kisah Zainuddin yang terlahir diantara dua suku, Bugus dan Minang. Keadaan ini dianggap tidak baik oleh keluarga Hayati, permata hatinya yg paling tercinta.

Love at the first sight. Ini adalah cerita pada pandangan pertama, antara Zainuddin dan Hayati yang berbeda suku. Bagi keluarga Hayati keturunan merupakan hal yang sangat crusial. Cerita cinta mereka berawal dari surat menyurat. Menurut Mimin it’s sooooo romantic, bahasa yg Zainuddin gunakan menyentuh syekali.

Disebuah kampung yg baru ditinggalinya Zainuddin merasa kesepian. Tak ada pemuda setempat yg mau berteman dengannya lantaran Zainuddin dianggap manusia tak bersuku. Di daerah mereka adalah hal yg sangat terhina jika tidak memiliki garis keturunan yg jelas.

Singkat cerita Zainuddin diusir oleh kepala suku, yang tidak lain adalah paman dari Hayati (Hayati seorang yatim piatu). Hal ini karena sudah banyak orang yg mempergunjingkan kedekatan Hayati dan Zainuddin. Diperbatasan kampung inilah mulai deh drama nya. Janji Hayati yg begitu indah menguatkan Zainuddin yang saat itu sudah terhempas oleh keputus asaan. Dengan membawa kerudung Hayati sebagai tanda cinta, pergilah ia ke Padang Panjang. (Mimin lewatin ya cerita di pacuan kudanya, hehe)

scene yang kena baged di Mimin

scene yang kena baged di Mimin

Berita Hayati dilamar oleh keluarga kaya raya sampai pada Zainuddin. Terpuruklah Zainuddin karena pengkhiatan terbesar yang Hayati lakukan karena ia tak mampu melawan adat istiadat di negerinya. Aziz, laki2 yg tidak bermoral baik menjadi suami Hayati dikemudian hari. Pada scene ini sangat mengharukan. Dimana sang Zainuddin yg gagah terlihat tak berdaya oleh cinta. Dua bulan Zainuddin seperti mayat hidup yang berdzikir nama Hayati. Duh, Mimin kena banged di scene ini. Bisa ngerasain apa yg dirasakan Zainuddin, ketika rindu akan Maman namun kesempatan tak sepihak dengan rindu kita. behhhhh…. jleb banged dah.

Setelah Zainuddin bangkit dari segala mimpi buruk itu, ia merantau ke Batavia bersama sepupunya Bang Muluk. Bakat menulis Zainuddin ternyata bisa diterima oleh khalayak ramai. Bukunya yg berkisah ttg perjalanan cinta Hayati dgn judul “Teroesir” laku keras. Inilah awal dari segala kekayaan yg dimilikinya. Semua berasal dari cinta permata hatinya.

Disingkat lagi ceritanya ya. Aziz dan Hayati yang merantau ke Surabaya bertemu dengan Shabir, nama tulis dari Zainuddin. Pernikahan Hayati amat sangat tidak bahagia, Aziz tidak memperlakukan Hayati layaknya seorang istri namun layaknya budak. Bisa bertemu dengan Zainuddin seperti minum air es ditengah kemarau panjang. Segarrrr… Aziz yg bangkrut sebangkrut2nya akhirnya tak punya malu menginap di rumah Zainuddin yg begitu besar. Rasa sungkan dan malu bercampur sedikit bahagia menyelimuti Hayati. Tak disangka Aziz harus bunuh diri demi membayar semua kebaikan Zainuddin dan untuk menutup semua rasa malu.

jeng jeng jenggggg… Dirumah itu tinggallah Bang Muluk, Zainuddin dan Hayati. Ouhhhhh… gellaaaaaa… Mimin suka bagian ini. Bagaimana akhirnya Zainuddin meluapkan segala emosinya yang dipendam menahun, rasa yang tak ada habisnya ia guratkan dalam setiap kisah2nya. Hingga ia dengan berbesar hati memulangkan Hayati ke keluarganya di Padang. Guys…. bisa kalian bayangkan perasaan semacam ini. Disaat kalian masih cinta tapi harus marah namun tetap cinta??? dalemmmmm… kalo Mimin cuma bisa mewek doang kali tanpa bisa ngomong apapun. Sweet.

ini juga salah satu scene yg Mimin suka

ini juga salah satu scene yg Mimin suka

Mungkin ini adalah penyesalan terbesar buat Zainuddin karena dengan tangannya sendiri ia mengantarkan kematian wanita, permata hatinya hancur tak kembali untuk selamanya.

kata2 terakhir yg berkesan buat Mimin adalah saat Hayati berkata, “Zainuddin, kekasihku…” diakhir ia menutup mata. Omegoddddd… acting Junot keren banged di ending film ini.

ohhh… Zainuddin, kekasihku…

Film ini sederhana, namun kalo temen2 nonton dari segi filosofinya, temen2 akan sependapat kalo ini perlu dicontoh oleh semua anak muda di Indonesia. Cara mencintai, cara dicintai, cara berjuang untuk orang yg kita cintai, cara membalas segala cinta dari alam, tuhan, dan makhlukNYA.

Mimin suka intinya, hehehe…
Klo punya pendapat lain, itumah pendapat anda, hehehe…

love you Maman, kekasihku…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s