Ketika Cinta dihargai dengan Murah

Sudah seminggu lebih MamanMimin gag telponan. Akhirnya diberi kesempatan telpon. Biasanya Mimin telponan sambil leyeh-leyeh alias sambil tiduran, tidak kali itu. Mimin duduk manis. Mimin pikir ini quality time, pengen ngobrol, sharing apa ajja meski gag penting, tapi Mimin disuruh tidur malah. Giliran lagi leyeh-leyeh disuruh duduk. Terserah lah Man yaaa… Mimin cuma pengen ngejaga quality time yg jarang banged. Selama Ramadhan ini MamanMimin jarang telponan karena perbedaan waktu dan kegiatan. Cuma sering chat ajja via WA.

Rindu sudah pasti, amat sangat rindu. Setiap malam sebelum tidur kalo lagi kangen ngeliat video Maman yg Mimin ambil diam2 waktu ngobrol via skype. Beberapa saat kemudian, Mimin nyebutnya “sayatan terdalam”. Mimin tersayat oleh candaan Maman yg benar2 Mimin gag bisa dimengerti. Mimin gag nyangka bakal ada candaan yg akan menyayat hati seorang wanita manapun dan siapapun. Ini Mimin tulis ssehari setelah kejadian malam itu.

Padahal Mimin mau cerita hal menarik yang memotivasi. Hilang indahnya mawar sebelum ia dinikmati oleh lembutnya sinaran mentari, sebelum embun yg sejuk kembali ke alam.

Malam itu tak ada pertanda akan tragedi sadis itu. Seperti biasa obrolan kami. Hingga Maman minta emot kiss, tapi Mimin gag mau. Bla bla bla… Maman ngajakin telpon, Mimin mau. Bla bla bla Dan disaat itu Maman bilang, kok jadi murahan? Jleb. Hilang senyum Mimin. Padahal itu tangan Mimin tinggal klik tombol telpon ajja. Entah, Mimin ngerasa itu gag pantas ajja diungkapin. Jika temen2 nganggepnya bercanda ajja kali si Maman. Sorry, Mimin gag sependapat. It hurts me soooo deeply.

Mimin sampe pada posisi hidup sekarang penuh perjuangan. Mencintai Maman dengan tulus, menerima segalanya dari Maman, beberapa kali kata kasarnya juga sudah berusaha Mimin pahami sebagai satu paket dari Maman. Tapi tidak untuk candaan seperti itu. Mimin jadi berpikir apa mungkin Mimin ini dianggap wanita murahan yang mau atau gampangan diajakin telpon? Apa segala yg Mimin alami Ramadhan lalu juga karna Maman memandang Mimin seperti itu? Segala Puji Bagi Pemilik Semesta Alam.

Sebagai penghargaan diri Mimin, karena Mimin sangat menghargai diri Mimin, karna rasa syukur yg besar Bagi Tuhan Yang Maha pencipta, dengan ini Mimin mulai berpikir lagi, berpikir lebih tegas terhadap hubungan ini.

Jika rasa cinta, sayang dan kasih yang tulus dihargai dengan suatu pengkhianatan terselubung seperti ini, Mimin capek. Tapi, Mimin janji akan terus nulis disini atau ditempat lain (tergantung Maman mau nutup blog ini atau ngga).

Harapan indah untuk menemani masa tua Maman terhenti. Mimin yg selalu berusaha memuliakannya, mengalah agar ia senang, bahagia, gembira, seperti tidak terbalas. Doa agar ia selalu baik pada siapapun ternyata tidak untuk Mimin. Namun, terimakasih telah mengajari Mimin sampai detik ini. Mimini sudah memaafkan semuanya. Tak ada dendam di hati ini. Ikhlas. Semoga Maman bisa dapat cinta yg lebih tulus, lebih besar dan lebih mendalam dari yg sudah Mimin berikan dan yg gag murahan di mata Maman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s