Maman dan Sepakbola

Maman yang capek menanggapi mbak-mbak tanya tentang cowok Pakistan membuat blog ini sempat nganggur untuk beberapa masa. Padahal Maman dah nulis jelas-jelas di bio kalo blog ini bukan biro jodoh tapi masih aja nanya. Mau dia ganteng, baik, janji-janjinya manis, ngajak ketemuan, pokoknya Maman nggak merekomendasikan. Wanita-wanita Indonesia layak mendapatkan yang terbaik, yaitu laki-laki Indonesia. Haha…

Tetapi semangat itu kembali muncul. Maman kembali termotivasi untuk menulis blog karena blognya Kaesang, anaknya pak Presiden yang lagi terkenal di jagat maya. Ya siapa tau bapak saya nanti jadi Presiden RI ke-8 so blog Maman Mimin jadi ikutan terkenal. Ngayal.

Kali ini Maman mau membahas tentang Sepakbola. Maman lagi semangat-semangatnya main sepakbola sekarang padahal sebelumnya jogging aja ogah. Karena partner main musik dah lulus n pulang ke Indonesia, sekarang Maman mengejar posisi kiper timnas Indonesia untuk PPMI Pakistan. Bagaimana perjalanannya? Kenapa harus posisi penjaga gawang yang dipilih? Okelah Maman ceritain asal-usulnya dari jaman SD.

Maman mulai mengenal sepakbola sejak SD. Pas SD Maman punya tetangga yang hobi main sepakbola dan diajak nonton World Cup France dan Serie A (wah jadi ketauan dong umur Maman). Maman yang sebelumnya anak rumahan sedikit demi sedikit jadi sering keluar rumah buat main. Tapi nggak lama, soalnya Maman pindah rumah dan ga punya tetangga yang bisa diajak main lagi.

Pas World Cup Korea Japan booming, Maman ikutan juga euforianya. Temen-temen sekolah pada main, Maman juga ikutan main. Nah di jaman inilah Maman mulai mengenal posisi penjaga gawang. Beberapa kali main, Maman sering jatuh kepleset karena nggak pake sepatu bola. Akhirnya Maman memilih posisi yang nggak banyak lari. Beberapa kali save dan block bola, akhirnya Maman betah di posisi ini. Dari nonton tv, Maman banyak belajar mengenai posisi ini. Iya lah TV, jaman dulu belum ada youtube. Haha. Di kelas, Maman juga sering gambar-gambar kostum tim kota dan timnas Indonesia dengan nama punggung Maman dengan nomer 22, bermimpi bisa jadi kiper profesional.

Nggak lama, Maman bosen dan melupakanannya.

Maman nih emang mudah dipengaruhi lingkungan. Pas SMP lebih sering main lagi karena banyaknya temen-temen sehobi. Hampir tiap sore main futsal di lapangan basket. Ya karena mainnya di lapangan basket jadinya celana banyak bolong lututnya. Pas jaman SMP ni Maman mulai mencoba posisi baru. Jadi penyerang. Wuih. Karena di kelas Maman nggak banyak yang bisa main. Kelas Maman isinya anak-anak pinter yang lebih memilih belajar daripada main. Haha. Jadinya pas kompetisi antar kelas Maman jadi penyerang.

Di SMA, Maman dah nggak main lagi sama sekali. Maman mulai kenal musik. Waktu Maman dihabiskan buat belajar di Marching Band. So nggak ada cerita di jaman ini.

Karena dah lama nggak main, tahun-tahun pertama di Pakistan nggak begitu semangat main. Apalagi temen-temen disini mainnya hebat-hebat jadinya Maman agak merasa minder. Hanya beberapa kali main dan nggak semangat. Maman yang dulunya jadi penjaga gawang di lapangan kecil dan gawangny kecil, merasa kesulitan buat beradaptasi di gawang besar. Maman lebih semangat buat main musik karena ada temennya.

Ketika temen itu lulus, Maman merasa kehilangan. Violin pun hampir tak tersentuh setahun lamanya. Maman pun mencari kegiatan lain. Waktu itu PPMI juga kehilangan posisi penjaga gawang. Maman mencoba peruntungan. Bermodalkan sepatu bekas dan kaos tangan murah yang sebelumnya Maman nggak pernah beli, Maman jadi lebih semangat main.

Sekali lagi, lingkungan bener-bener mempengaruhi Maman. Anak-anak yang baru datang semuanya hobi main sepakbola. Bagian olahraga PPMI yang waktu itu menjabat orangnya juga asik. Kehidupan olahraga PPMI jadi lebih hidup. Bagian olahraganya menganggarkan banyak dana untuk pembelian peralatan sepakbola yang bermerk. Langkah ini diambil katanya biar anak-anak makin semangat latihan dan bisa bersaing di University Sport Gala. Kebetulan sebelum-sebelumnya Indonesia ga pernah bisa menang lawan negara manapun. Memang kalo pake barang bagus jadi lebih semangat ya.

Ternyata keputusan bagian olahraga untuk membelikan alat latihan yang bagus mengubah gaya hidup anak-anak PPMI. Yang sebelumnya asal main dengan bola apa aja sekarang maunya pake bola yang mahal. Yang sebelumnya asal main dengan sepatu apa aja sekarang rata-rata sepatunya ada gambar centang atau 3 garis. Begitu pula dengan kostum dan peralatan lainnya. Kondisi ini membuat prestasi timnas Indonesia turut merangkak naik.

Apakah ini yang disebut ‘Allah pasti mengabulkan doa, tapi kadang dipending sampe waktu yang pas’. Bermimpi sejak SD baru dikabulkan beberapa belas tahun kemudian. Yah meskipun bukan kiper timnas Indonesia beneran, tapi menjaga martabat gawang Indonesia di mata pelajar internasional di Islamabad juga ga kalah seksi. Beneran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s