Menikmati Lamunan

Dulu, pas Maman masih pake WiFi hostel buat internetan dan hapenya masih stupidphone (bukan smartphone), Maman sering mati gaya kalo pas mati lampu. Internet mati, udara semilir, ga tau mau ngapain, bengong dan melamun. Duduk di atas kasur bersandar dinding pake bantal. Melamun pun dimulai, pikiran melanglangbuana.

Semenjak 2 tahun yang lalu Maman mulai beli modem USB pribadi. Karena modem ga berpengaruh terhadap mati lampu, jadi internet jalan nonstop. Maman jadi jarang melamun, fokus depan komputer kalo nggak baca2 atopun hiburan. Kalo nggak komputeran ya belajar ato ngerjain tugas. Pokoknya pekerjaan silih berganti.

Hari ini barusan, setelah sekian lama, Maman melamun lagi. Lagi pengen aja gitu. Sebenernya lagi pengen baca dan lagi ada kerjaan juga, tapi lagi pengen melamun aja. Rasanya? Asik…

Jadi menurut Maman, kalo diibaratkan makan dan pencernaan, aktifitas belajar itu seperti makan. Makannya otak gitu deh. Kalo perut dapet makanan, kalo otak dapet ilmu dan pengalaman. Nah setelah makan kan ada proses pencernaan, nah dalam belajar ada proses melamun yang mana kita memproses dan mereview segala ilmu yang sudah kita dapat. Ketika makanan sudah dicerna, maka jadilah energi yang bisa digunakan untuk beraktifitas. Begitupula ilmu yang sudah dilamunkan, diproses dan dihubungkan dengan ilmu-ilmu lain, maka bisa kita amalkan, ajarkan, atau aplikasikan.

Apa jadinya kalo kita makan mulu non stop tanpa dicerna? Tentu kita akan sakit.  Begitu pula dalam belajar. Jika kita hanya belajar mulu tanpa ada waktu untuk melamun, maka ilmu2 itu tidak akan berkaitan, mudah terlupa, dan jadi tak berguna. Masa sih? Nggak tau ya, pengalaman pribadi sih gitu.

Dalam pepatah Arab dikatakan:

‘Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon tanpa buah’

Seperti orang yang banyak makan tanpa banyak aktifitas fisik, menimbun banyak kalori dalam tubuhnya, maka dia akan mengalami obesitas. Maka kalo kita punya ilmu yang tidak dimanfaatkan, tidak diaplikasikan, tidak diajarkan kepada yang lain, maka ilmu itu tidak akan berguna.

Melamun tuh ga perlu banyak persiapan alat dan bahan. Duduk rileks dimanapun, bisa kamar, musholla, ato taman. Melamun harus dalam keadaan fresh, kalo lagi capek ntar malah ketiduran. Setelah duduk beberapa menit, maka segala macam history, inspirasi, dan imajinasi bersliweran datang. Segala informasi itu langsung diolah di otak seperti para ahli filsafat Yunani menjadikan pikiran mereka sebagai laboratorium. Insya allah setelah segala informasi itu ‘matang’, kita bisa belajar lebih serius karena kita tau ilmu apa saja yang belum kita kuasai untuk melengkapi potongan puzzle ilmu itu. Haseekkk…

Yoweslah, Maman mau melamun dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s