Temen Kamar Anak Thailand

Padahal dah diniat-niatin November bakal rajin nulis tapi ya tetep aja. Ga terasa dah ketemu Desember, bulannya selimutan.

Karena kebetulan lagi mati lampu saat ini, mager karena gelap jadinya Maman pengen nulis. Maman pengen nulis tentang temen kamar Maman saat ini. Kalo dulu Maman punya roommate orang Somalia, sekarang temen kamar Maman orang Thailand. Padahal ya kita dah sekamar sejak 2 tahun yang lalu tapi baru sekarang Maman nulis tentang mereka.

Yang pertama namanya Taofit. Dia kuliah jurusan Islamic Studies. Dia berasal dari Narathiwat, Thailand Selatan. Yang unik, Taofit ni dateng ke Islamabadnya bareng sama Maman. Beneran bareng, kita satu pesawat. Kita satu pesawat di flight Bangkok-Islamabad. Namun karena waktu itu kita belum saling kenal, ya kita nggak sapa menyapa di pesawat.

Yang kedua namanya Abdul Haqee. Dia masih kelas bahasa Arab disini. Dia berasal dari Yala. Karena dia masih junior disini, kita agak sulit komunikasi. Berbeda dengan Taofit yang bisa lancar Melayu, Arab, dan Inggris, Haqee belum terlalu lancar berbahasa selain bahasa dia. Jadi Maman lebih seringnya ngobrol sama si Taofit.

Mereka berdua ni temen yang asik. Kebanyakan orang Thailand yang disini suka sepakbola, begitu pula mereka. Tiap sore kita bareng temen-temen Thailand yang lain main sepakbola bersama di lapangan. Ketika ada match Liga Inggris yang seru, kita nonton streaming bareng. Paling hot ya kalo timnas Indonesia vs Thailand, masing-masing saling menjaga martabat dan kebanggaan negara masing-masing.

Awalnya, mungkin kita mengira orang Thailand semuanya penganut agama Budha dan sapaan kalo ketemu ya ‘Sawasdee Khraap’. Tapi mereka berdua ni muslim dan sapaannya ya pake salam. Begitupun bahasa Thai mereka juga ga terlalu mahir. Mereka pakenya bahasa daerah mereka yang disebut ‘melayu kampong’ yang menurut Maman nggak ada mirip2nya sama Melayunya Malaysia.

Berbeda dengan temen-temen Indonesia yang mudah beradaptasi dengan makanan, anak-anak Thai nih ga bisa makan makanan Pakistani. Untuk itu mereka masak dan Maman sering diajak makan. Karena sungkan diajak mulu, akhirnya Maman ikut patungan. Ada untungnya juga, dengan patungan n makan bersama kita jadi semakin akrab. Pas abis makan kita ngobrol-ngobrol. Topiknya kalo nggak masalah kuliah ya curhatan mereka tentang kerajaannya yang kurang adil terhadap rakyat muslim minoritas di Thailand selatan.

Yah namanya juga beda negara beda budaya, ada beberapa sikap mereka yang kurang cocok sama Maman. Yang pertama mereka ni kurang peduli terhadap kebersihan. Beda 180′ sama si Somali, Raghe, yang bersih banget. Mereka juga suka teriak-teriak kalo ngomong, entah sekedar ngobrol di dalam kamar ato teriak manggil orang di luar dari balkon.

Itu aja dulu deh, dah mau nyala lampu juga. Pokoknya Maman bersyukur lah bisa belajar dan bersosialisasi dengan orang yang berbeda budaya dan yang terpenting nyicipin makanannya. Sebuah kesyukuran.

NB: 2 tahun ngomong Melayu sama Taofit, logat Maman jadi berubah jadi agak melayu2 gitu. Tanya aja Mimin.

20130922_200257

Makan bersama temen-temen Thai di kamar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s