Pak Dubes dan Bu Dubes dalam Kenangan

Sengaja Maman menulis tentang Pak Dubes dan Bu Dubes RI untuk Pakistan beberapa minggu setelah wafatnya beliau. Biar euforianya dah abis dan ga di comot media.

Pak Dubes, Bu Dubes, dan seluruh WNI menyemarakkan Resepsi 17 Agustus 2014

Pak Dubes, Bu Dubes, dan seluruh WNI menyemarakkan Resepsi 17 Agustus 2014

Beberapa minggu lalu, sebuah kabar duka melanda seluruh warga Indonesia di Pakistan. Di awali dengan meninggalnya Bu Dubes karena kecelakaan helikopter di Gilgit, lalu disusul Pak Dubes 10 hari kemudian akibat luka bakal 70% yang dideritanya. Tidak hanya kedua putranya, Pittra dan Yoga, yang merasa kehilangan, begitu pula kami semua WNI di Islamabad khususnya yang sering mendapat suntikan nasehat dan motivasi dari beliau berdua. Beberapa orang Pakistan yang memiliki hubungan dengan Indonesia (tetangga, dosen yang punya mahasiswa Indonesia, tukang beras langganan, chacha kasir kantin, supir KBRI) juga shock mendengar kabar itu dan turut berbela sungkawa.

Maman kenal baik dengan kedua sosok tersebut. Bu Dubes yang seorang dosen bidang Hukum dan pemain tenis meja, sering ngajak diskusi mahasiswa dalam berbagai bidang. Di kala senggang (kadang malah jam kantor kalo lagi bete), suka nantangin siapa aja yang lagi bengong buat main tenis meja. Kalo sama Pak Dubes malah lebih kenal baik lagi. Beliau hobinya main musik dan menggelar pertunjukan musik dan seni sebagai media diplomasi dengan para diplomat Pakistan atau negara sahabat. Maka sering ngajak Maman yang bisa main violin buat ngeband bareng atau jadi leader tim gamelan KBRI.

Kepada para anggota PPI Pakistan beliau juga akrab. Mungkin karena beliau dulu juga pernah menjadi anggota PERMIAS (PPI Amerika Serikat) sewaktu mengambil program doktoral, jadi sudah paham bagaimana kondisi mahasiswa di luar negeri dan sering memberi masukan untuk program kerja. Yah meskipun Maman nggak pernah menjabat sebagai pengurus PPI, tapi cerita2 dari pengurus sih gitu. Yah meskipun kadang nyebelinnya kalo programnya kurang menarik bagi kita atau timingnya nggak pas.

Ada satu quote yang paling saya ingat dari Pak Dubes, yang disampaikan pas acara Resepsi 17 Agustus 2014 di Aula Budaya Nusantara KBRI Islamabad. Pernyataan ini diucapkan di hadapan para tamu diplomat pada saat Islamabad lagi status ‘Waspada’ karena adanya Azadi March dari Imran Khan yang mengepung kawasan Parliament House ampe Diplomat Enclave dimana KBRI berada.

“The true friends come in difficult times”

Terus hubungannya apa? Ya ga tau, ini aja yang kebetulan Maman inget haha…

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun. Maut datang nggak pake permisi. Kejadian ini sebagai peringatan bagi kita untuk selalu siap, apalagi di negara yang ajeb2 macem sini.

Selamat jalan Pak Dubes Burhan Muhammad dan Bu Dubes Herry Listyawati. Doa kami untukmu.

4 thoughts on “Pak Dubes dan Bu Dubes dalam Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s