Pola Ajar

Sejujurnya Mimin orangnya gag pinter2 banget, tapi entah kenapa rejeki Mimin itu di dunia mengajar. Sarjananya politik kerja ngajar. Eniwei, baswei, meliweimeliwei Mimin mau share sedikit tentang pola ajar yg sesuai.

Setelah sekian lama mengajar, Mimin akhirnya menyadari beberapa hal. Menjadi seorang guru itu sungguh luar biasa capeknya. Untuk itu penghormatan tertinggi dari Mimin bagi setiap guru dimana pun berada. Untuk itu juga tolong naikkan gaji guru dibantu bantu yak. Hehehe kalo gag percaya ama capeknya cobain ajja ngajar dari pagi ampe sore dari berbagai kelas.

Selain itu Mimin juga menyadari dari sisi si murid. Bahwasannya setiap anak memiliki kecenderungan pola belajar dan pola ajar yang berbeda-beda. Maka, sekiranya para guru tidak menyamaratakan cara mengajar untuk setiap anak. Memang tidak mudah. Karena tidak mudah maka perlu kerjasama yang erat dengan sekolah sebagai lembaga tertinggi. Sekolah di indonesia sekiranya sekarang harus lebih jeli. Bukan mengklasifikasikan murid berdasarkan rangking saja.

Namun, menurut Mimin lebih bijaksana jika sekolah diklasifikasikan sesuai dengan kecenderungan si anak. Misalnya saja, anak dengan kecenderungan otak kanan dikumpulkan dengan yg sama, begitu pula dengan sebaliknya, anak dengan kecenderungan otak kiri dikumpulkan dengan yg sama. Menurut Mimin hal ini perlu agar semua anak mendapatkan ilmu yang sama.

Pendapat Mimin yang demikian diatas bukan spekulasi saja. Selama Mimin mengajar dengan pola ajar yang seperti kebanyakan di kelas umum, anak-anak mengalami banyak kesulitan karena lingkungan kelas yang tidak mendukung.

Si anak dgn kecenderungan otak kanan membutuhkan banyak ruang ketika belajar karena kecenderungan yang tidak bisa diam dalam waktu yg lama. Sedangkan anak dengan kecenderungan otak sebelah kiri membutuhkan ruangan yg sepi untuk meningkatkan konsentrasinya. Akibatnya, kebanyakan anak dgn kecenderungan otak kanan akan terlihat nakal dan si guru memberikan stempel dgn perilaku nilai C. Ini sangat tidak manusiawi.

Jika si anak dgn kecenderungan otak kanan memiliki kontrol emosi yang baik mungkin dia tidak memperhatikan stempel tersebut. Namun, jika si anak memiliki lingkungan yg tidak mendukung (keluarga dan masyarakat) ditambah si anak tidak memiliki rasa percaya diri, maka si anak hanya akan menjadi anak yang rusak dan gagal. Dia akan selalu merasa dirinya bodoh dan tidak bisa melakukan apapun. Dia dan lingkungannya lupa bahawasannya anak dgn kecenderungan otak kanan memiliki daya kreatifitas yg tinggi. Ide-ide mereka selalu fresh. Sayangnya lingkungan hanya melihat seseorang dari intelektualnya yang jarang dimiliiki oleh si otak kanan. Bayangkan jika di Indonesia saja kita tidak terkungkung oleh streotip pintar dan bodoh, sudah banyak prestasi yg dihasilkan.

Sedangkan, anak dengan kecenderungan otak kiri karena hebat di soal matematika dicap sebagai anak jenius. Tidak ada yg salah dengan itu. Namun, Mimin hanya ingin kita mulai sekarang janganlah terpaku dengan kebanggaan itu saja. Jangan lupakan si otak kanan yg terlihat bandel itu. Stop dengan kata “nakal” sebaiknya tidak kita gunakan lagi kata itu. Karena hakikatnya si anak yg disebut nakal itu hanya seorang anak yg tidak tau harus kemana menyalurkan energi dan bakatnya itu.

Terakhir, sejatinya seorang anak yang lahir di dunia ini adalah suci. Kita para orang tuanya lah yg membentuk mereka. Stop lebel yg kasar (bodoh, nakal, tuman, tambeng, pencilaan) ganti dengan kalimat yg mendorong anak untuk maju terdepan. Jangan lupa beri pujian dalam hal apapun agar si anak terpacu dan fokus melakukan hal-hal yang baik sesuai norma ketimuran dan pancasila.

JANGAN HANYA BISA MENJADI ORANG TUA YANG BISA MARAH, NAMUN JADILAH

ORANG TUA YANG PANDAI MEMARAHI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s