Indonesia memilih

Malam ini Indonesia telah memilih Pak Joko Widodo sebagai Pemimpin 5 tahun kedepan. Semoga bapak bisa mewujudkan segala mimpi2 bapak untuk indonesia yg tercinta ini.

Pesen Mimin, meskipun bapak pengusaha kayu mohon dijaga hutan kita ya pak.

Bismillah, Indonesia kami amanatkan kepada bapak.

pemberdayaan Parkiran, tata kota

Satu lagi dong Izinkan Mimin share ide Mimin. Mimin tuh papling sebel kalo kena macet di daerah pasar induk di kota Mimin. Sebelnya karena pemkot ini kayak gag tanggep gitu ama keadaan pusat perekonomian ini. Adanya parkir di badan jalan adalah penyumbang utama dari kemacetan. jalan satu arah yang seharusnya lenggang dan besar harus menjadi sempit karena parkiran.

Hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, seperti sudah merasa baik saja. Pemerintah kota yg sudah brkali-kali ganti juga gag ada yang tanggap. Kalo Mimin analisis daerah pasar induk ini ada kok beberapa lahan toko yang besar tapi sudah lama tidak dipergunakan. Mimin rasa bisa kok didayagunakan. Tinggal komitmen pemkotnya ajja. Bayangkan deh, kalo di deket pasar induk parkiran dipusatkan pada beberapa sudut, dibangun lahan parkir bertingkat. tidak mengurangi rasa hormat kepada tukang parkir, mereka tetap diberikan jatah di lahan tersebut. Namun nantinya dapat gaji tambahan dr pemkot. Uangnya pun harus adil, tukang parkir yg berada dilantai atas atau tempat yg urang strategis diberikan pesangon yg agak banyak, yaa biar adil tho, biar tetib. Ide ini teruntuk semua jenis kendaraan. Bayangkan lagi kita memiliki pasar induk yang asri, semua orang jalan kaki. Ada troli2 barang disetiap sudutnya. Jika warga bisa diajak tertib bisa tanpa ada jasa tertib troli. Ini akan berhubungsn dengan tuna wisma tadi. mereka bisa saja diperkerjakan untuk bagian kebersihan, sebagai gantinya meereka diberi tempat tinggal yg layak dan asuransi kesehatan…

Hmmm… enaknya yaaa ngekhayal begini. Mimin dari kecil ingin sekali melihat semiskin-miskin rakyat indonesia setidaknya mereka punya tempat tinggal agar di rumah itu mereka bisa mendidik anak mereka dengan sebaiknya pendidikan. Untuk merubah Indonesia jadi lebih baik dibutuhkan kerja cerdas dari seluruh aspek. Jayalah negerikku.

Pemberdayaan kota

Hari ini Mimin ada dua janji buka bareng. Satu bareng mantan anak didik Mimin dan satu lagi buka bareng dengan teman2 organisasi sambil bagi2 makanan untuk anak jalanan dan ibu2.

Ada yang ingin Mimin share disini. Pengalaman ini adalah Pengalaman pertama bagi Mimin. Kalo biasanya langsung ke panti asuhan kali ini harus keliling kota untuk mencari tempat2 anak jalanan itu mangkal. Sayangnya Mimin gag bawa camera.

Fenomena yang Mimin ingin Mimin share ialah kemana negara? katanya janji bakal melindungi mereka. Tuna wisma seperti mereka benar2… ah, entahlah bagaimana lagi harus diungkapkan. Sebenernya Mimin punya ide untuk mereka dan untuk kota Mimin ini. Ada suatu daerah di pusat kota yang kelihatannya tidak terlalu diperdayagunakan. Dulunya lokasi ini sebagai pusat ekonomi alias pasar.
Menurut Mimin (mohon dikoreksi jika salah), jika pemerintah daerah ataupun pusat memang serius bisa saja para tuna wisma ini diperdayagunakan yang nantinya berbuah keuntungan untuk mereka sendiri. Begini ide Mimin. Di daerah yang Mimin sebut barusan kan bisa saja pemda beli atau pemda kontrak untuk kemaslahatan para tuna wisma. bikinkanlah rumah susun atau panti sosial yang besar. Mungkin terlihat menglenakan ya ide Mimin. tapi tunggu bentar No free lunch. Para Tuna Wisma ini juga harus dibekali keterampilan. Hasil keterampilan mereka adalah karcis untuk dapat makan atau tempat tidur. Ide Mimin bisa berupa tempat yang disewa tadi digunakan aula yg besar untuk sekedar makan 3x sehari atau dibuat rumah singgah yg layak.
Bagaimana pemasukannya? Nah ini butuh konsistensi dari seluruh warga kota. sumbangan bisa terarah tapi tidak sekedar sumbangan, bisa saja hasil prakarya dari para tuna wisma diberikan kepada si donatur sebagai rasa terima kasih. jadi, tidak ada yg terbuang. Atau apa sajalah. Yang terpenting paara tuna wisma itu tidak hanya diberi makan namun jg keterampilan yg menghasilkan. Mimin gag ngusulin pake dana APBN/D biarkan dana itu untuk membangun saja atau untuk pendidikan, kesehatan agar keberlangsungan ekonomi berdampak langsung ke seluruh penjuru kota. Sehingga strata sosial tidak terlalu ekstrim bedanya.
Untuk tempat bisa menggunakan Lahan di daerah mati (tidak lagi dipergunakan) ada baiknya disediakan untuk jaminan sosial bagi seluruh rakyat. contohnya bikinlah rumah susun. Kemudisan para koruptor dibebankan untuk melayani mereka. contohnya jadi tukang laundrynya mereka, atau yang ngemasakin mereka pake sebagian uang denda kepada negara.

Andaikan semudah itu dijalankan. hehe, maaf lagi ngekhayal…
yuks nungguin hasil KPU…

Pemilu

Akhirnya Indonesia udah melakukan pemilu. Serentak dilakukan tanggal 09 Juli 2014. Kalau di daerah Mimin syukurnya aman terkendali. Datang ke TPS dengan tertib dan tidak begitu antri. Terlihat beberapa yang saling menyapa, sedikit berbincang, sekedar menanyakan kabar. Ada kakek dan nenek juga yg ikut. Ada pula bapak2 yg ngajakin anaknya sekaligus memberikan pendidikan politik demokrasi, sepertinya. Awalnya sih dilarang, tapi setelah ditanyakan ke panitia dan sedikit rembuk warga akhirnya sang anak boleh melihat apa yg dilakukan sang ayah dibalik bilik.
Berharap banyak kepada siapapun yang terpilih agar melakukan banyak hal baik.

Indonesia MamanMimin dan Milik Kalian

Pada tahun 2014 kita rakyat Indonesia bakal ngerasain lagi nih pesta demokrasi. Gimana ya si Maman disana???
Mimin kemaren gag sengaja baca tulisan dari salah satu dosen di kampus Mimin, namanya pak Wahyudi. Judulnya Mimin lupa. (Kapan2 tolong diingetin ya kalo MImin janji mau nulis judul tulisan pak Wahyudi itu).

Ketidaksengajaan itu pas banged ama rencana tulisan Mimin kali ini. Sebenernya Mimin hendak bnerkeluh kesah tentang siapa ya yang bakal Mimin pilih sesosok manusia yang akan memimpin negeri ini. Eh, taunya di tulisan Pak Wahyudi itu Mimin merasa diingatkan kembali mengenai sejarah yang [ernah langgeng di dunia ini. Sebagai anak HI Mimin udah gag ngerasa asing lagi dengan partai kiri dan partai kanan (kuno). Bagi2 temen2 pembaca yg kebetulan anak HI pasti juga gag asing kan dengan dua ideology klasik ini.

Pak Wahyudi mengingatkan Mimin ternyata jaman sekarang partai2 yang ada khususnya di Indoensia sudah bias ideology. Maksudnya? Yaaa gitu… Menurut Mimin juga terlalu gamang bagi Mimin untuk melihat partai politik yang benar2 mengusung suatu pandangan hidup yang jelas. Kalo masalha korupsi mah udah jelas , hahaha… Coba temen2 perhatikan sendiri!

Mimin beranggapan, apa iya partai yang jelas dengan ideologinya udah gag laku di Negara ini? Pak Wahyudi menjawab bahwasannya aliran ideologi partai saat ini ialah ideology tengah yang cenderung liberal. Kalo menurut dosen Mimin ini adalah akibat era globalisasi yang cukup pesat. Sehingga membuat orang yang tidak lagi berpegang teguh dengan kepercayaannya (ideologinya) melainkan bagaimana cara tetap eksis di dunia perpolitikan. Pergeseran makna seperti ini yg membuat MImin bingung saat ini. Kenapa? Ya karena Mimin gag mau milih presiden yang sebenernya ogah banged milih dia. Tapi kalo golput gag gahol banged kan sebagai anak social politik. Huft. Semoga sebelum pemilu berlangsung ada sosok pendobrak yang nyata ya… yang berjiwa nasionalis seperti Soekarno, yang setegas pak Harto, sepandai pak Habibie, yang sewibawa Pak SBY, yang mengerti dan memahami perbedaan seperti Gusdur, dan semoga berjiwa ibu bangsa seperti megawati…

Kalo Mimin boleh menyuarakan, pak Ahok dan pak Anis baswedan juga turut serta yaaaa… wkwkwk…
MImin gag memihak kepada partai apapun yaaa… ini murni karena taunya Mimin dengan dua orang itu. SUMPAH !!!… hehehe

Militer Tunisia dan Mesir

Hai hai haiiii…

Sepertinya pembaca sekalian banyak yang mencari artikel yang berhubungan dengan akademik ya. Oleh sebab itu, Mimin mencoba untuk berbagi dari apa yang Mimin baca ya. Berkat pembaca sekalian Mimin jadi termotivasi untuk ngebaca nih. Alhamdulillah, Mimin sekarang lagi ada di dalam lingkungan yang mendukung sekali untuk menulis beberapa kesimpulan2. Semoga kedepannya cita-cita MamanMimin “Biar LDR tapi Tetep Bisa Berkarya” ini dapat tercapai ya…

Well, barusan Mimin abis baca satu artikel dari Najamuddin Khairurrijal yang judulnya “Perbandingan Keterlibatan Militer dalamTransisi Demokrasi di Tunisia dan Mesir Tahun 2011”. Beliau ini lulusan terbaik di angkatannya.

Pada prodi Ilmu Hubungan Internasional ada ketentuan dalam hal banding-membandingkan. Kalo di kampus Mimin ada mata kuliah khusus nih guys, namanya mata kuliah Teori Perbandingan Politik. Sedikit yg Mimin ingat dari tulisan ini adalah menjadi hal yang terpenting dalam membandingkan sesuatu adalah kesamaan posisi. Maknanya, jika kalian mau membandingkan suatu negara maka point utama adalah membandingkan negara yang memiliki sistem politik yang sama. Menjadi hal yang tidak masuk akal jika teman-teman sekalian membandingkan politik Amerika dengan politik Indonesia. Kenapa? Karena dari kedudukan negara saja sudah beda lantas bagian yg masuk akal mana yg bisa dibandingkan. Seperti itu singkatnya.

Tulisan yang judulnya “Perbandingan Keterlibatan Militer dalamTransisi Demokrasi di Tunisia dan Mesir Tahun 2011” ini Mimin suka. Beliau bisa membuat Mimin membaca keseluruhan tulisan. Pemilihan kata yang sederhana namun tetap ilmiah membuat Mimin terhanyut. (aiiiihhhh…)

Keterlibatan militer dalam suatu negara adalah sangat penting. Tapi ternyata keterlibatan militer sendiri memiliki tipe-tipe untuk mengkajinya yang kemudian disebut dengan pretorianisme. Pretorianisme sendiri memiliki variannya yaitu moderator, guardian dan ruler. Kemudian hasil penelitian dari Najamuddin Khairurrijal ini menyatakan bahwa keterlibatan militer di Tunisia bertipe moderator pretorian. Sementara keterlibatan militer di Mesir bertipe guardian pretorian. Nah, pretorian ini selanjutnya membentuk suatu hubungan antara sipil (tau kan arti masyarakat sipil? Tau donggg…) dan militer menjadi democratic competitive untuk Tunisia dan military olygharcy untuk di Mesir. Pretorianisme digunakan untuk menganalisis sikap, posisi dan peran militer.

Untuk lebihnya monggo dicari sendiri yaaaa… hehehe…

International Business, Mata Kuliah Bisnis Internasional

Sesuai janji Mimin, bakal ngulas sedikit tentang mata kuliah Bisnis Internasional di kelas perdana di semester genap Mimin.

Tadi itu sebagai awal mula perkuliahan dibuka dengan sebuah cerita sederhana. Tentang seseorang yang melakukan kegiatan yang berbau bisnis internasional. Bahasa lebih gampangnya sih “look at what you wear”. Iya sih, dengan globalisasi sekarang ini, bisa jadi apa yang kita kenakan adalah hasil produksi dari berbagai negara. Bisa jadi merk yang kita gunakan itu milik Amerika tapi diproduksi nya di Tangerang, Indonesia dan sejenisnya dan seterusnya.

Pak Pri, nama panggilan dosen Mimin, beliau merupakan dosen “luar biasa” dijurusan Mimin. Kenapa luar biasa? Gag tau dech kenapa, mungkin ini istilah yang digunakan jurusan untuk menyebut dosen tidak tetap kali ya. Whatever, Mimin suka sama penjelasannya.

Pertama, beliau menjelaskan ini.

The four risk of International Business:

  • Cross Culture
    Berhubungan dengan adat kebiasaan yang ada di negara masing-masing
  • Country
    Bagaimana sistem dinefara itu saling berlaku
  • Currency
    Menyangkut mata uang negara-negara di dunia yang tidak stabil
  • Comersial

 

Why participate in IB?

  1. To seek opportunities for growth through market diversification.

    Jelaslah lah ya namanya bisnis akan selalu berhubungan dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan meminimalisir kerugian. Untuk diversification nya Mimin belum jelas. Tadi rasanya bapak ngejelasin tapi Mimin kayaknya kelewat dech. Maaf ya..

  2. To ear higher margins and profits
  3. To gain new ideas about product, services and business methods
  4. To better serve key customers that have relocated abroad
  5. To be closer to supply sources, benefit from global resourcing advantages, or gain flexibility in the sourcing of products
  6. To gain access to lower-lost
  7. To develop economics of scale in sourcing production, marketing and R&D
  8. To confront international competitors more effectively or to thwart the growth of competition in the home market
  9. To invest in a potentially rewarding relationship with foreign business

 

Untuk memotivasi kita, Pak Pri menampilkan slide berikut.

Why should I study IB?

  1. To facilitate the global economy and interconectedness. IB brings nations closer together
  2. To contribute to national economic well being. IB fuels economic growth and rising living standard
  3. To provide a competitive advantage for the firm. IB provide companies with many benefits leading to profitability and competitive advantages
  4. To gain a competitive advantage for myself
  5. To provide an opportunity for global corporate citizenship

 

Sebagai bentuk penyesalan karena tadi Mimin ngantuk waktu pelajaran pak Pri, makanya Mimin nulis apa yg ada di binder Mimin. Semoga bermanfaat yaaa…

 

 

Spekulasi Budaya Politik Indonesia

Latah nih Mimin, ngeliat Maman nge-post masalah politik jd pengen juga komentar masalah politik. Dicoba dari politik yang ada di Indonesia dech.

Pemilu 2014 bentar lagi jehhh, bagi para kader-kader pasti lagi sibuk-sibuknya nih (sotoy). Kalau bagi mahasiswi kayak Mimin lagi memepersiapkan analisis-analisis seputar pemilu dan bahkan saat pemilu. Yaaa… semacam belajar lah. how about you?

Menurut Mimin (yang ngga tau mau ngejelasin pake teori apa), untuk saat ini peran media sebagai to inform adalah hal terpenting. Kalut atau tidaknya suatu pesta rakyat nanti sangat dipengaruhi besar oleh si media. Kenapa? ya karena pendidikan politik di masyarakat kurang. Tau budaya politik kan? yang pertisipan,  subjektif (kalo nda salah sih, mohon dibenerin ya kalo salah), trus yang parokial…

Kalau rakyat nya iya-iya ajja ama pemerintahan disebut budaya parokial. Kalau yang rakyat tau itu politik, ngerti pula, tapi dia diem ajja gag mau komentar atau berbuat sesuatu itu disebut budaya subjektif. Nah, kalau masyarakatnya aktif bukan sembarang aktif, berbuat bukan sembarang berbuat ini disebut dengan budaya partisipan. lalu, kemudian dan seterusnya Mimin belum tau gimana cara ngukurnya untuk nentuin dimana budaya politik Indonesia.

Mau menilai menurut jumlah penduduk, Mimin gag punya data. Mau ngeliat dari pendidikan di Indonesia, Mimin gag tau berapa persentase orang yang ngambil jurusan politik, karena bisa jadi orang yang gag belajar politik tapi dia tau politik dan bahkan ikut berpolitik. Jadi cuma sedikit spekulasi dari Mimin data ini keluar. Harap dimaklumi yaaa…

Kalau di Indonesia dikatakan parokial sepertinya kurang pas. Karena informasi, pendidikan dan keikutsertaan rakyat dalam politik tidak bisa dipandang sebelah mata. Rakyat Indonesia saat ini sudah mulai ikut berbicara politik meskipun mungkin minim pengetahuan didalamnya. 

Kalau dikatakan partisipan juga terlalu lebay. Karena gag semua juga orang Indonesia paham politik. Misalnya dibilang partisipatif, seharusnya kalimat seperti ini tidak terlontar → “saya milih ya yang ngasih jatah lebih. Kaos lebih, payung lebih dan pesangon yang lebih”. Miris kannn??? Kalimat seperti ini Mimin dapatkan ketika kelas Mimin melakukan surfei ke kalangan-kalangan yang sekiranya gag tau politik atau yang sekedar tau pemilu saja. So, budaya ini sepertinya juga tidak terlalu pas.

Bagaimana dengan budaya politik subjektif? Apakah cocok dengan Indonesia? Menurut Mimin sih sepertinya begitu, tapiiii… No Comment lagi dech.

Inget ini hanya spekulasi saja. Hehehe….

Sedikit tentang IMRAD

“Apa dehhhhh… ” kalimat yang keluar setelah ngebaca tulisan Maman yang Habislah Gundah Terbitlah Berkah. -__-” , tolong dimaklumi saja ya pembaca sekalian, gitu dech. Tapi bikin makin cinta dech, ups.

Well, Mimin mau share tulisan karya ilmiah yang baru ajja disosialisasiin dosen Mimin. Mungkin temen2 sekalian udah akrab ama ini “IMRAD”, ya gag?

Mimin sih belum terlalu mahir, masih meraba-raba gimana biar tulisan itu jadi IMRAD banged. IMRAD ini singkatan dari Introduction, Metodologi, Result, A nya masih ada perdebatan dalam diri Mimin, trus Discussion. 

Langsung ya,

Seperti biasa Introduction ini isinya sama kayak latar belakang di makalah, introductiion di paper yang berisi gaya kita banget. Kenapa kita ambil tema itu, kenapa sangat menarik, bagi banyak orang yang tidak terbiasa menulis ini agak sulit guys, mengingat pengalaman pertama Mimin juga waktu dulu pertama kali nulis. Tapi percayalah menurut Dosen idola Mimin, Pak Victor, di bagian ini itu kita bener2 nulis dengan minat dan kesukaan kita. Jangan lupa dibagian ini juga kita udah memperlihatkan posisi kita sebagai penulis. Dalam masyarakat HI (Hubungan Internasional) posisi ini seperti bagaimana cara pandang kita terhadap kasus yang kita pakai, realis kah? liberal kah? dan seacam nya dech. Trus juga isinya juga bisa pengertian dari keyword yang kita gunakan, dan apalagi yaaa… tambahin dech ya kalo ada yang punya lebihnya… hehehe

Kemudian masuk ke Metodologi, ini isinya teori yang kita gunakan untuk memperkuat argumen kita. As u know bagaimana teori dan konsep itu bekerja, itulah yang ditulis disini.

Result, Kata ibu Peggy, dosen Mimin, itu hasil dari I+M. Hasil dari introduction and metodologi, gag begitu yakin sih. Pembaca ubek-ubek sendiri dech, sorryyyyy….

“A” menurut data yang Mimin cari banyak yang bilang “A’ berarti and , tapi menurut ibu Peggy “A” ini ialah analisis. Terserah kalian dech klo yang ini. masih ada perdebatan juga.

Discussion, kalo bagian yang ini Mimin biasanya nulis diskusi-diskusi yang berkembang saat mengerjakan, atau sebelum memulai menulis, menurut Mimin ini penting soalnya akan bisa membantu untuk penulis selanjutnya yang ngebaca tulisan kita. Biasanya Mimin nulis dalam bentuk pertanyaan gitu.

 

Well, sorry kalo infonya kurang lengkap atau kurang memuaskan, ntar kalo Mimin udah jago bakal nge-share lagi dech.. okke okke

Bukan Demokrasi asli, cuma curhatan…

Curhat lagi donggg… Boleh ya???

😥 , Mimin lagi bosen banged nih. Dari 2 semester lalu, eh ngga ding, dari semester satu dech, Mimin dicekokin sama hal-hal yang berbau demokrasi. Pasti pembaca sekalian juga udah bosen kan. Harusnya Mimin tambah bahan bacaan gitu yaa? tapi penyakit M ini selalu kumat, tau kan penyakit M? yes, M.A.L.A.S …

Jadi Demokrasi tuh rumusnya, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (sorry kalo kebalik-balik). Tau gag gimana prosesnya? jadi awal mulanya itu dari sistem Monarki –> Tirani –> Aritokrasi –> oligarki –> demokrasi. Ini menurut dosen Mimin Pak Gonda, yang setelah Mimin browsing di beberapa blog lainnya alur yang seperti itu ialah lanjutan dari ide Aristoteles  yang dilanjutkan oleh Polybios.

Sebelum ada penjelasan dari Pak Gonda ini Mimin masih males2an belajar demokrasi, cuma tau demokrasi ala kadarnya ajja. Beneran bosen soalnya. Menurut Mimin penjelasan dengan alur begini lebih enak untuk memahami kenapa demokrasi itu ada. Pemerintahan awalnya dipegang oleh Raja, kemudian Raja itu ternyata seraka dengan jabatannya maka sistemnya berubah jadi Tirani, yang lebih mementingkan pribadi Raja dan keluarganya saja. Kemudian Raja ini dikudeta (bahasa Mimin, bahasa politiknya dilengserin), dan diganti dengan Aritokrasi, awalnya sih baik, soalnya dipegang oleh orang-orang pinter (cendikiawan) pada zaman itu dan bergerak untuk kepentingan bersama. Lalu kenapa diganti lagi menjadi oligarki? yaaa gitu dech manusia, begitu udah ngerasa nyaman dengan kedudukan yang enak jadi lupa ama tujuan awalnya. Bener gag? Maka terganti jadi oligarki, eh ternyata oligarki juga gg berjalan dengan yang diharapkan kan. Akhirnya masuk pada zaman demokrasi, yang pemerintahannya dijalankan dari semua rakyat. Diharapkan dari sistem ini masyarakat nya aktif dalam membangun politik dan ekonomi negara. Idealnya sih gitu,,, tapi u know laaaahhh gmn pelaksanaannya…

Mimin bukan posisi ataupun oposisi mengenai ini, berabe soalnya, bisa diboikot ntar Mamanmimin.wordpress.com ini oleh pihak2 yang gitu dech… Sekali lagi ini hanya curhatan terhadap bosennya harus nulis demokrasi dalam setiap paper dengan permasalahan yg adaaa ajja para dosen ini ngasihnya.

Sekedar saran, bagi kamu2 yang gag suka atau pun suka ama demokrasi, lebih baik banyakin bahan bacaan dech, dan jangan belajar dengan tutup telinga, kalian harus diskusi, nerima kritikan yang masuk, banyak nanya, dan juga kalau belajar harus sampe ke akarnya yaaa… biar kalo kalian jadi posisi atau pun oposisi terhadap demokrasi gag kyk orang buta yang meraba gajah, okke… okke dong… Pokoknya jangan kyk Mimin dech yang tau kulitnya doank, ini Mimin udah mulai mau belajar lagi sampe akarnya, ternyata emank perlu tau masalah yang lebih keren dari K-pop ini, demokrasi, biar gag kyk Islam KTPan gitu.

Semangat membaca yaaa… ntar Mimin share lg apa yg udah Mimin baca,,, so tongkrongin terus yaaa Mamanmimin.wordpress.com

Colek Maman, mana nih ilmu Nano nya???