Kartu Kuning a.k.a Kartu Tanda Bukti Pendaftaran Pencari Kerja

Setelah menulis tentang SKCK, Mimin mau nulis tentang pembuatan kartu kuning a.k.a Kartu Tanda Bukti Pendaftaran Pencari Kerja. Kartu ini bisa kalian dapatkan di dinas ketenagakerjaan dan transmigrasi, di pemerintah kota setempat.

Untuk di kota Malang, tempat pembuatan kartu kuning berada di kantor terpadu yang beralamat di Jl. Mayjend. Sungkono, Kel. Arjowinangun, Kec.Kedungkandang, Malang 65132. Mimin baca-baca sih kantor terpadu ini dibangun untuk mempermudah dan memfasilitasi penduduk dalam hal pengurusan surat perijinan dan berkas2 mengenai kependudukan lainnya. Bikin e-ktp juga disini.

Well, di kantor terpadu ini terdapat beberapa gedung. Untuk pembuatan kartu kuning berada di lantai 3 gedung B. Ada dua opsi menuju gedung B:

  1. Parkir di depan gedung A. Lokasinya masuk dari gerbang belok kanan. Disana ada pak satpam sekaligus tukang parkir. Jangan lupa nyiapin uang seribu. Setelah itu masuk ke gedung A (didepan tmpt parkir itu gedung A). Segera cari meja resepsionis atau pusat informasi, Setelah itu nengok ke arah kiri ada gang kecil, masuk lewat gang kecil itu. taraaaaa… kamu bakal ngeliat gedung lainnya diluar sana. Nah itu gedung B tempat pembuatan kartu kuning. Kalo ragu tinggal nanya ajja ke orang di resepsionis jalan ke gedung B.
  2. Parkir di belakang gedung A, didepan gedung B. begitu masuk dari gerbang masuk langsung terus ngelewatin pos satpam didepan. setelah itu kamu bakal liat parkiran, udah deh parkir. dan gedung didepan parkiran itu adalah gedung B tempat ngebuat kartu kuning.

Tangga menuju lantai 3 disebelah bank Jatim. Ada sekitar 50 anak tangga untuk sampai ke lantai 3, tenanggg gag bakal capek kok, soalnya suasana menuju lantai 3 cukup damai.

Setelah kamu berada di tangga terakhir belok kanan, belok kiri dan belok kanan. Beberapa langkah belok kanan lagi masuk ke dalam ruangan, lalu bilang ajja, “mau bikin kartu kuning pak”. mengisi beberapa kolom dan selesai deh kartu kuning kamu.

Syaratnya adalah:

  1. Fotokopi KTP, 1 lembar
  2. Fotokopi KK, 1 lembar
  3. Foto ukuran 3×4, 2 lembar
  4. Fotokopi ijazah yang sudah dilegalisir, 1 lembar
  5. Tidak boleh diwakilkan
  6. Menggunakan map kuning

Setelah selesai ini kalian akan diminta untuk memfotokopi kartu kuning sebanyak 6 lembar. 1 lembar diberikan kembali untuk arsip yang 5 untuk kalian.

Biaya yang dibutuhkan untuk mengurus kartu kuning ini adalah:

  1. Biaya parkir                  Rp. 1000
  2. Biaya fotokopi               Rp. 2200
  3. Biaya pengurusan         G R A T I S

Kalo ada yang kurang jelas silahkan tanya yaa…

Persyaratan SKCK

Masih berkutat dengan SKCK nih guys. Ditulisan sebelumnya kita dah bahas tentang prosedur yg lumayan panjang untuk ngurus SKCK. Kali ini akan Mimin persingkat.

Mimin ambil gambarnya asli dari kantor polisi. gag copas.

Mimin ambil gambarnya asli dari kantor polisi. gag copas.

Yang unik adalah Mimin gag boleh ambil gambar tentang PNPB nya. gag boleh diambil gambarnya tapi boleh dong yaa ditulis ulang isinya. Apa itu PNPB menurut kantor polisi di wilayah Malang? ini dia

Berdasarkan

Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 50 Tahun 2010

Tanggal 26 Juni 2010 Tentang Jenis Tarif atas

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

Yang Berlaku Pada Kepolisian Negara Republik Indonesia

Biaya penerbitan SKCK Rp. 10.000

Terhitung 01Juli 2010

Anehnya adalah tulisan tadi itu gag boleh diphoto sama petugasnya. Secara serentak saat itu orang2 yang didalam kantor polisi ngeliatin ulah Mimin. Mimin merasa semua orang berpikiran sama saat itu, yakni “kenapa gag boleh diphoto kalo masalah uang?”

ya ya ya ya apapun itu, plis yaa, kantor polisi sebagai harapan rakyat sebagai pemangku jabatan yang ditugaskan untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan dapat bersih dari ketidakadilan.

kalo ada yang tau alasannya kenapa gag boleh diphoto sharing yaa biar Mimin gag penasaran.

Persyaratan SKCK Kota Malang

Persyaratan mencari kerja salah satunya adalah SKCK. Maka kali ini Mimin mau share. SKCK gag bisa dibuat sehari doang, ada beberapa proses yg harus dilalui dulu guys.

  1. Beli Map
  2. Siapin fotokopi Akte, Kartu Keluarga, Photo ukuran 4×6 background merah. (biar gag cetak lg saat ngurus di kepolisian)
  3. Pergi ke RT . Beruntunglah yang punya ketua RT gag sibuk. Ketua RT Mimin orangnya sibuk, jadi cuma bisa ditemuin abis magrib (klo beruntung). Bilang ke pak RT, “permisi pak, saya mau minta surat pengantar SKCK dari RT”.
  4. Kalo di RT Mimin setelah mendapat selembar kertas dari RT, Mimin diminta ke sekretaris RT untuk minta nomor surat dan stempel RT
  5. Setelah itu diarahkan lagi ke Pak RW. Kalo pak RW Mimin super duper sibuk. Dia jarang di rumah. Beberapakali minta tanda tangan untuk keperluan Mimin selalu kertas Mimin harus nginep di rumahnya. Setelah dapet tanda tangan pak RW, saatnya kita pergi ke kelurahan.
  6. Proses di kelurahan cukup bentar kok. seinget Mimin sih. ehhh,,, nggak ding. Mimin naro jam 10 pagi dan baru bisa diambil jam 1 siang.
  7. Setelah lengkap RT, RW, Kelurahan siapkan dokumen tambahan buat di polres.
  8. Ini Mimin salin dari gambar. “Pelayanan Prima SKCK” dengan persyaratan lengkap sebagai berikut: Sesuai Perkap Nomor 18 tahun 2014
  • Surat pengantar dari RT, RW setempat (dirangkum dengan surat keterangan dari kelurahan)
  • Fotokopi KTP (dengan menunjukkan KTP asli
  • Fotokopi KK
  • Fotokopi Akte Kelahiran
  • Fotocopy kartu identitas lain (bagi yang belum memenuhi syarat memiliki KTP)
  • Pasfoto ukuran 4×6 sebanyak 6 lembar dengan latar belakang warna merah
  • Sidik jari pemohon (artinya gag bisa diwakilkan)
  • PNBP Rp. 10.000,-

Untuk di kota Malang lokasinya ada di seberang RSUD Saiful Anwar (lebih dikenal dengan nama Rumah Sakit Celaket). Bisa parkir d rumah sakit klo gag mau muter, terus ntar nyebrang lewat jembatan gantung.  Begitu masuk Kantor polisi langsung tanya ajja ke pos jaga tempat bikin SKCK.

Jangan lupa potokopi hasil SKCK buat dilegalisir. potokopi ada dibelakang pos jaga. sekitar 20 langkah kaki kok.

Nuansa Bening MamanMimin

Lagu bersejarah,

Mimin dulu mengira adanya music favourite tiap couple itu cuma ada di film-film atau cerita fiksi belaka.  MamanMimin ternyata mengalami hal fiksi itu.

Bagi Mimin lagu lama yang dinyanyiin Vidi A.-Nuansa Bening adalah lagu bersejarah. Dimanapun berada kalo udah denger lagu itu, “oh God, freze the time please for me!”. Mimin selalu menutup mata, membayangkan semua kenangan di Jogja saat liburan bersama.

Saat itu kita lagi makan malam di sebuah warung makan terkenal di Jogja, tempatnya amat sangat ramai. Tapi, beruntung MamanMimin bisa dapet tempat tanpa harus menunggu lama. Meski padat pengunjung dengan udaranya yg panas nan pengap untuk Mimin serasa dunia Cuma milik MamanMimin ajja. Hehehe… secara yaaaa kita LDR, jadi moment bersama seperti saat itu sangat memorable. Ketika itu kita mau bayar makan, ada pengamen bersuara serak tapi merdu menyanyikan lagu Nuansa bening, “kini terasa sungguh semakin engkau jauh semakin terasa dekat” pada part itu tiba2 tangan kami saling menggenggam. Seolah2 tertaut lah hati kami. Teringat menjalani LDR yang lalu dan yang akan datang.

Sembari berlalu dari tempat pengamen itu, Maman bilang,”Min, ini lagu kita banged ya”.

Begitulah kisah kenapa lagu asli dari genk pegangsaan yang di remake Vidi Aldiano jadi lagu bersejarah bagi MamanMimin.

Jalan-jalan Mimin di Kota Palu

Aigoooo, lama jua Mimin tak menulis.

Mimin mau sedikit cerita tentang pengalaman Mimin di tanah Sulawesi, tepatnya di kota Palu.

Suatu rejeki nomplok Mimin bisa pergi kesana.

Berita pernikahan sodara Mimin udah booming dari februari tahun ini. Mimin selaluuu berharap bisa datang ke sana. Bukan karena kedeketan hubungan sodara sih, hahahaha… jiwa penasaran Mimin yang lebih besar. Mimin selalu penasaran bagaimana sih Pulau Sulawesi itu? akhirnya saat itu datang juga di tanggal 03 April 2015. Bertepatan dengan hari ulang tahun Mimin.

Alhamdulillah bener-bener rejeki nomplok. Rencana Cuma 2 hari di Palu ternyata Mimin habiskan selama satu minggu. Hmmm… nyummi banged. Semuanya serba gratis. Gag banyak tempat yang Mimin jelajahi, soalnya sodara2 Mimin pada gag hobby traveller disana. Jadi Mimin Cuma berkunjung ke tempat2 umum saja.

Tapi tenang ajja! Mimin tetep akan berbagi info tentang kota Palu.

Kalo mau pulang pergi ke Palu memakai pesawat usahakan merasakan sensasi dua langit. Apa maksudnya? Usahakan merasakan penerbangan pagi dan malam. Saat itu Mimin pake penerbangan malam menuju Palu. Subhanalllahhh, cantik banged Palu dari langit kalo Malam hari. Dan Mimin pake penerbangan siang saat pulang. Bahagia bisa lihat Palu dari dua waktu itu. So, kalian juga harus ngerasai dua rasa langit itu yaaaa…

Selanjutnya, tips ke Palu adalah ada yang jemput di bandara. Sepenglihatan Mimin, kemaren itu tidak Mimin jumpai taxi atau jasa travel gitu. Jadi, ada baiknya temen-temen yang mau ke Palu emang udah tau transportasi untuk keluar dari bandara.

kalo beruntung, keluar airport bisa lihat pemandangan epik ini

kalo beruntung, keluar airport bisa lihat pemandangan epik ini

Kota Palu lumayan panas guys, so usahain bawa body lotion and sunblock yaa, hehehe. Meski panas, Kota Palu tidak sepanas Surabaya atau Jakarta. Di kota Palu gag dipenuhi pabrik industri jadi polusinya bukan faktor adanya cuaca panas disana. Sodara Mimin percaya kalo  suasana panas itu karena letak kota Palu yang berada pada garis katulistiwa.

Ke kota Palu jangan lupa maen ke Pantai Talise saat malam hari. Ini WAJIB. Soalnya kongkow disana tuh semacam cerita jaman dulu ajja. Ditemani minuman serabak khas kota Palu, Pisang goreng crispy dan yang bikin kota Palu tak terlupakan adalah pengamen jalanan yang bersuara emas menyanyikan lagu dengan bahasa daerah. Ditambah semilir angin laut yang sepoi-sepoi. Hmmmm… dikejauhan akan terlihat jembatan kuning khas Palu.

Menikmati bubur ubi manado dan pisang goreng di pinggir Pantai Talise

Menikmati bubur ubi manado dan pisang goreng di pinggir Pantai Talise

lagi mendung di pinggiran Pantai Talise

lagi mendung di pinggiran Pantai Talise

Kota Palu banyak terdapat pantai sebenernya. Tapi, Mimin cuma punya waktu buat maen ke Taipa Beach. Pasir putih, laut yang jernih wihhhhh, kalo Cuma Mimin kasih picturenya jangan percaya deh, buktiin sendiri maen kesana. Namun sayannya biaya adminnya agak mehong a.k.a mihil a.k.a mahal. Disana terdapat gazebo2 kecil, sayangnya untuk duduk di gazebo itu kita harus bayar juga. Sayang sih sebenernya kalo tempat pariwisata seapik itu harus bayar ini bayar itu, gag ramah turis lah. Semoga itu jadi koreksi penting bagi dinas pariwisata kota Palu yaaa….

Taipa Beach, pinggiran pantai Taipa, kota Palu, Indonesia

Taipa Beach, pinggiran pantai Taipa, kota Palu, Indonesia

beberapa gazebo di Taipa Beach yang berbayar

beberapa gazebo di Taipa Beach yang berbayar

Jembatan merah di Taipa Beach

Jembatan merah di Taipa Beach

Topi Mimin hanyut kena terpaan angin di Pantai Taipa xixixi

Topi Mimin hanyut kena terpaan angin di Pantai Taipa xixixi

FYI, photo2 yang Mimin ambil ini gag pake DSLR cuma pake hape ajja. Thank you Azus Zenfone 5.

Makan Mangga Gaya Punjabi

Musim panas udah memasuki penghujungnya. Masa-masa penuh derita kepanasan udah hampir terlewati. Begitu juga dengan mangga, sekarang lagi banyak-banyaknya dan murah-murahnya. Di Pakistan nih kalo urusan buah-buahan emang selalu update sesuai musimnya. Karena disini nggak mengenal pengawetan buah, jadinya kita hanya bisa makan buah-buahan yang segar baru dipetik beberapa hari yang lalu. Misalnya nih, musim panas gini kan musimnya semangka, melon, cantaloupe, mangga, plum, peach, dsb. Kalo pengen buah yang bukan musimnya, bisa dicari di toko barang impor dan harganya mahal.

Karena sekarang lagi musimnya mangga, hari ni Maman mau bagi tips makan mangga ala orang Punjabi. Cara makannya unik, cocok dipake kalo lagi di tengah jalan dan ga punya pisau. Btw, model dibawah ini bukan Maman ya, tapi temennya Maman.makan manggaLangkah 1

Pilihlah mangga yang matang dan udah lunak. Kebetulan Maman punyanya mangga yang ukurannya kecil.

Langkah 2

Remas mangga sampe lembek banget.

Langkah 3

Remes lagi ampe biji mangganya kerasa berubah posisinya.

Langkah 4

Gigit ujungnya.

Langkah 5

Srupuuuttt…

Langkah 6

Abis, tinggal kulit dan bijinya.

Asik kan? Silakan di coba dan di share ntar fotonya ya…

Nyetir di Islamabad

Bulan puasa. Di bulan lain kalo punya masalah biasanya ngebentak, marah, ngebanting, ato nendang. Tapi karena bulan puasa jadi Maman harus bisa menahan emosi terhadap para pemancing emosi. Ya udah dilampiaskan sambil nulis aja. Mumpung lagi libur musim panas, nggak ada kerjaan nggak tau mau ngapain.

Kali ini Maman mau nulis tentang hal-hal unik (kalo nggak boleh dibilang kampret) yang ditemuin di Islamabad yang nggak ditemuin di Jawa. Kenapa Jawa? Karena Maman baru nyetir di kawasan Jawa-Bali aja, jadi mungkin di pulau lain juga ditemuin hal semacam. Kalo di bilang paling ngerti tentang jalanan kota Islamabad, sebenernya nggak juga karena Maman nggak terlalu sering jalan-jalan. Hostel dan kampus yang berjarak sengesotan membuat Maman hanya keluar komplek IIU Islamabad kalo ada keperluan yang mendesak. Tapi entah kenapa Maman jadi orang yang paling sering ditanyain arah jalan, toko, dan tempat hangout asik bahkan oleh senior yang lebih lama di Pakistan. Berasa punya profesi sampingan, karena biasanya abis nganter mau nggak mau yang di anter bakal nraktir makan. Haha…

Maman mempelajari seluruh pelosok Islamabad dan Rawalpindi siapa lagi kalo bukan bareng Afridi, motor 70cc kesayangan (di follow twitternya @letsgoafridi). Cari di Maps tempat-tempat asik terus di kunjungin. Tapi kayanya ke depannya Afridi bakal tersaingi ama Metro Bus buat nemenin Maman jalan-jalan yang udah mulai operasi sejak bulan lalu, adem nyaman murah cuma Rs20. Ntar lah kapan-kapan Maman buatin review tentang tempat-tempat hangout asik.

Oke balik ke judul, Hal-hal unik (dan kampret) yang di temuin di jalanan Islamabad.

Check point dimana-mana

Checkpoint bikin macetKarena emang Pakistan punya isu keamanan yang masih rentan, jadi pos pemeriksaan banyak ditemui. Mereka memeriksa secara acak, kalo lagi nggak hoki biasanya bakal diperiksa dengan pertanyaan-pertanyaan ga penting; “Mau kemana?” “NCPnya (KTP Pakistan) mana?” “Kamu orang mana tinggal dimana?” “Mau nggak nge-chai ama saya?”

Kalo dah kena, Maman biasanya liat dulu warna seragam petugasnya. Kalo abu-abu itu Polantas, mereka punya hak untuk nilang jadi Maman akan nurut menepi. Kalo biru, itu polisi kontrakan (semacam satpam, polisi tambahan) yang senjatanya cuma pentungan dan badannya gendut. Maman langsung ngebut biasanya haha…

Ibu-ibu yang nyetir mobil bebas dosa

Kalo berdasarkan hukum jalanan, emak-emak ini emang nggak tersentuh ‘hukum’. Apalagi emak bertubuh subur pake mobil Mehran (mini sedan berbahanbakar gas) Mau lawan arus, mau serobot sana-sini, mau nyenggol, mau ngerem mendadak di tengah highway mereka akan tetap pasang wajah tanpa dosa. Orang-orang akan memaklumi perilaku mereka. Tapi kalo mereka dilanggar, mobilnya disenggol, ato merasa terancam, para pria di sekitarnya akan berusaha melindungi meski yang salah ya si emaknya.

Bukan sekali dua kali Maman yang berada di dekat supir macam ini hampir menjadi korban. Kalo di Jawa biasanya supirnya akan merasa bersalah, mengakui salah, pasang ekspresi menyesal, dan minta maaf dan korbannya kalo kerugiannya nggak terlalu besar bakal memaafkan dan lanjut jalan. La tapi emak sini pasang tampang bloon dan cuek, siapa yang nggak pengen nampol. Kalo dah begini Maman akan langsung cabut daripada makin ribut dan ga mungkin menang.

Eh tapi selama disini Maman nggak pernah liat polisi lalu lintas nilang emak-emak. Jangan-jangan mereka emang bener-bener kebal hukum.

Nggak ada namanya tukang parkir, parkir amat berantakan sekali

Yang seharusnya kalo rapi bisa muat beberapa mobil dan motor, tapi karena berantakan jadi keliatan penuh. Kalo Maman lagi nyetir mobil, dengan hati-hati Maman parkir sesuai garis ampe pas betul. Eh tapi tiba-tiba ada yang nyelonong mobil lain (apalagi mobil yang agak mahal) langsung wus parkir ngawur, matiin mesin, cabut kunci, keluar supirny, pasang pose ganteng make kacamata hitam. Hoeekk. Perilakumu nggak mencerminkan otakmu, bhai.

Kadang kalo dah parkir ngawur gini, sebagian badan mobil akan nongol dan agak nutup jalan utama. Yang begini ni bikin macet, klakson2, ribut. Kalo kesenggol, marah. Makin rame. Maman nonton aja sambil makan kentang goreng.

Kalo ada tabrakan, berantem dulu. Nutup jalan, cuek amat.

Tabrakan, nyerempet, nyenggol, dsb adalah hal yang lumrah. Skill nyetir yang bikin Maman selalu bingung kaya gimana sih tes SIMnya emang selalu merenggut korban; baik korban langsung maupun tidak langsung. Korban langsungnya adalah korban yang bener-bener terjadi kontak langsung dengan pelaku. Korban tidak langsungnya adalah kita-kita yang terhalang jalannya gara-gara pelaku dan korban langsung lebih memilih berantem dulu daripada menepikan kendaraannya.

Tabrakan terjadi, pelaku dan korban ribut, macet, motor-motor yang nggak sabaran akan nyelonong, ada senggolan lagi, ributnya dobel, dan Maman pun akhirnya markir motor pesen shawarma dan nonton keributan.

Pengemudi motor pake helm, penumpangnya nggak

Untuk kawasan Islamabad, pengemudi motor wajib pake helm. Denda yang melanggar sih cuma Rs100 (Rp13000an pas artikel ini ditulis). Tapi untuk penumpangnya, nggak wajib pake. Malah ada yang bilang nggak boleh pake karena terkait keamanan. Di daerah Karachi, para geng kriminal bermotor biasanya menggunakan helm untuk menutupi wajahnya. Jadi biar mukanya keliatan gitu kalo pas ada pemeriksaan. Padahal kalo terjadi kecelakaan biasanya kan penumpangnya ya yang cederanya lebih serius. Apalagi orang sini kalo boncengan bisa lebih dari 3 orang.

Kaca film mobil hanya boleh untuk pejabat kelas atas

Sama seperti alasan penumpang motor yang nggak boleh pake helm, kaca film nggak diperbolehkan untuk rakyat biasa terkait keamanan. Biar keliatan siapa aja yang di dalam mobil. Kalo ketauan biasanya langsung di sobek di tempat.

***

Ya udah segini dulu. Kayany lainnya sama aja kaya mobil angkutan yang beloknya hanya Tuhan dan supirnya yang tau, motor boncengan ampe lima orang lebih, mobil yang overload, dsb. Doakan Maman bisa beli hape kamera biar artikelnya lebih bagus ada potonya…

Ramadhan ke-4 di Islamabad

Wuih, dah lama juga ya Maman di Pakistan.

Tidak terasa Maman dah memasuki tahun ke-4 di Pakistan ni. Bentar lagi mau pulang yey. Suasana Ramadhan di Pakistan emang ga jauh berbeda dengan suasana Ramadhan di Indonesia karena emang sama-sama negara muslim. Tapi ya tetep aja ada bedanya. Perbedaan suasana ini lah yang biasany bikin penasaran n memotivasi anak-anak lulusan SMA untuk kuliah di luar negeri. Yang Maman tulis disini yang antimainstream, yang kira-kira ga pernah di bahas di blog lain. Kalo masalah kuliner ato kegiatan itu dah basi haha…

Makan bersama keluarga

Momen buka bersama adalah momen yang sakral. Sedapat mungkin diusahakan yang namany buka harus bersama keluarga. Dan kalo bisa buka bersamanya di rumah. Kalo yang lagi jauh dari rumah, tetep makan bareng dengan rekan2 sejawat. Makanya ketika jam-jam ashar setiap pertokoan dan bazar akan ramai didatangi para pembeli makanan dan 10 menit sebelum adzan biasanya semua pertokoan akan tutup dan senyap. Tiap orang sudah berkumpul dengan keluarganya di rumah bersiap untuk buka bersama. So, jangan harapkan untuk buka bersama di rumah makan ato kafe karena dah pasti tutup.

Begitu pula dengan sahur, disini ga ada namany warung tengah malam ato Sahur on The Road. Pas taun pertama Maman di sini, Maman pengen nyari makan sahur di luar karena emang lg males masak. Muter-muter sampe subuh g nemu toko yang buka. Jadi lebih baik ketika Ramadhan tuh punya stok bahan makanan daripada siang kelaperan karena puasa n malem kelaperan karena ga ada toko buka.

Makan adalah Ibadah. Sebenernya ini ga cuma pas Ramadhan aja sih. Tapi jangan pernah mengusik orang Pakistan yang lagi makan. Jadi kalo dateng ke sebuah toko pas buka puasa dan pekerjanya lagi makan, anda ga bakal dilayani. GA BAKAL. Tokonya tutup sih nggak, tapi ya ga bakal dilayani. Semacam menolak rejeki, tapi itulah prinsip mereka untuk menikmati rezeki yang sudah dimiliki. Barusan sebelum nulis tulisan ini Maman lagi dongkol karena mau ngisi bensin tapi ga dilayani karena pekerjanya lagi makan (pom bensin disini ga self service).

Bangun siang

Ini salah satu sifat jelek orang Pakistan yang belum Maman pahami sampe sekarang. Jadi ketika hari biasa orang Pakistan memulai aktifitas toko dan kantor cukup telat, sekitar jam 8-9an (matahari terbit jam 4). Nah pada hari puasa toko-toko baru mulai buka pada jam 11 sampe jam 5. Logisnya, dengan berkurangnya jam buka toko akan mengurangi pemasukan. Hal yang sama seperti di Malaysia, bangun siang tapi hobi begadang. Maka seharusnya malem itu juga buka. Ga panas n bisa makan. Tapi disini setelah maghrib dah g ada kehidupan. Pucing kepala Maman.

Lebaran yang Sepi

Lebaran kaya jumatan, abis sholat ied ya udah pulang…

Pak Dubes dan Bu Dubes dalam Kenangan

Sengaja Maman menulis tentang Pak Dubes dan Bu Dubes RI untuk Pakistan beberapa minggu setelah wafatnya beliau. Biar euforianya dah abis dan ga di comot media.

Pak Dubes, Bu Dubes, dan seluruh WNI menyemarakkan Resepsi 17 Agustus 2014

Pak Dubes, Bu Dubes, dan seluruh WNI menyemarakkan Resepsi 17 Agustus 2014

Beberapa minggu lalu, sebuah kabar duka melanda seluruh warga Indonesia di Pakistan. Di awali dengan meninggalnya Bu Dubes karena kecelakaan helikopter di Gilgit, lalu disusul Pak Dubes 10 hari kemudian akibat luka bakal 70% yang dideritanya. Tidak hanya kedua putranya, Pittra dan Yoga, yang merasa kehilangan, begitu pula kami semua WNI di Islamabad khususnya yang sering mendapat suntikan nasehat dan motivasi dari beliau berdua. Beberapa orang Pakistan yang memiliki hubungan dengan Indonesia (tetangga, dosen yang punya mahasiswa Indonesia, tukang beras langganan, chacha kasir kantin, supir KBRI) juga shock mendengar kabar itu dan turut berbela sungkawa.

Maman kenal baik dengan kedua sosok tersebut. Bu Dubes yang seorang dosen bidang Hukum dan pemain tenis meja, sering ngajak diskusi mahasiswa dalam berbagai bidang. Di kala senggang (kadang malah jam kantor kalo lagi bete), suka nantangin siapa aja yang lagi bengong buat main tenis meja. Kalo sama Pak Dubes malah lebih kenal baik lagi. Beliau hobinya main musik dan menggelar pertunjukan musik dan seni sebagai media diplomasi dengan para diplomat Pakistan atau negara sahabat. Maka sering ngajak Maman yang bisa main violin buat ngeband bareng atau jadi leader tim gamelan KBRI.

Kepada para anggota PPI Pakistan beliau juga akrab. Mungkin karena beliau dulu juga pernah menjadi anggota PERMIAS (PPI Amerika Serikat) sewaktu mengambil program doktoral, jadi sudah paham bagaimana kondisi mahasiswa di luar negeri dan sering memberi masukan untuk program kerja. Yah meskipun Maman nggak pernah menjabat sebagai pengurus PPI, tapi cerita2 dari pengurus sih gitu. Yah meskipun kadang nyebelinnya kalo programnya kurang menarik bagi kita atau timingnya nggak pas.

Ada satu quote yang paling saya ingat dari Pak Dubes, yang disampaikan pas acara Resepsi 17 Agustus 2014 di Aula Budaya Nusantara KBRI Islamabad. Pernyataan ini diucapkan di hadapan para tamu diplomat pada saat Islamabad lagi status ‘Waspada’ karena adanya Azadi March dari Imran Khan yang mengepung kawasan Parliament House ampe Diplomat Enclave dimana KBRI berada.

“The true friends come in difficult times”

Terus hubungannya apa? Ya ga tau, ini aja yang kebetulan Maman inget haha…

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun. Maut datang nggak pake permisi. Kejadian ini sebagai peringatan bagi kita untuk selalu siap, apalagi di negara yang ajeb2 macem sini.

Selamat jalan Pak Dubes Burhan Muhammad dan Bu Dubes Herry Listyawati. Doa kami untukmu.